Sabtu, 30 Maret 2019

MAUDY AYUNDA

 
 
Beberapa minggu kebelakang nama Maudy Ayunda menjadi pembicaraan netizen Indonesia karena statusnya tentang kegalauannya karena diterima dua kampus terbaik level dunia. Pada saat itu, aku tidak terlalu tertarik dan menganggap seperti hal-hal lain berkenan dengan artis seperti biasa. Nanti juga akan hilang sendiri pikirku. Begitu juga dengan sosok Maudy Ayunda sendiri kutak melihatnya ada yang spesial. Ya, dia salah satu artis dengan kelebihan cemerlang dengan dunia akademiknya. Nothing special at all.
 
 
Tetapi beberapa hari yang lalu, sebuah link youtube di salah satu grup wa mampir. Semula tidak begitu tertarik, tetapi ketika sedang agak santai akhirnya iseng cari lagi link tersebut dan ditonton. Video di chanel Najwa Shihab itu berdurasi tidak lebih dari 30 menit tapi membuatku seolah terpana. Entahlah, mungkin karena aku sangat suka bermimpi. Ketika melihat seseorang berhasil mewujudkan mimpi mustahil membuatku jadi bergairah. Hingga akhirnya saat ini saya agak terobsesi dengan Maudy Ayunda. Anak muda Indonesia butuh banget banyak
inspirasi begini.Dan ternyata dia punya suara sangat merdu.


Maudy Ayunda bagi saya membangkitkan kembali semangat, seolah mengatakan bermimpilah! Meskipun mimpi tersebut terlihat sangat tidak mungkin. Saat kehidupan S2 yang kurasakan mulai terasa begitu-begitu saja. Ada gairah lain yang terpantik, semacam trigger buat merefresh mimpi-mimpi yang dulu pernah ada. Apalagi setelah pembimbing untuk tesis sudah ditetapkan dan dapat dosen pembimbing yang luar biasa. Jadinya, sekarang semakin mudah meyakinkan diri bahwa segala impian itu sangat mungkin untuk terwujud.

*foto siswa SMA DTBS sedang asyik menonton wawancara Maudy Ayunda dalam Catatan Najwa
*foto siswa SMA DTBS sedang asyik menonton wawancara Maudy Ayunda dalam Catatan Najwa


Satu hal lagi, aku semakin menyadari bahwa untuk mewujudkan mimpi ada hal yang harus dibayar. Bahwa mimpi tanpa keras adalah sebuah kemustahilan. Bahkan seorang Maudy pun harus membayarnya dengan kerja keras. setidaknya ini bisa menjadi sugesti saat penghalang mulai bermunculan, seperti malas, minder, dan sejenisnya. Ya, meskipun pasti tidak semudah itu tapi mulai dari keyakinan sudah menjadi modal besar.
Kemudian, aku ingin menebar semangat ini ke sekitarku. Mulai dari murid-muridku, teman-teman. Semoga kelak aku bisa menginspirasi dengan kisah sendiri. Aamiin.

Minggu, 01 Januari 2017

Berbelok atau Menikung

Kalau lagi galau hati dan pikiran terlalu semrawut buat nulis, nulisnya ntar ajja.  Kalau lagi nyantai ngga punya ide buat nulis,  yaudah ntar lagi deh.
Trus nulisnya kapaaaan?
Jangan ditiru ya itu penyakit aku ajja 😅

Nah sekarang muncul dengan judul gitu lagi nyantai apa galau? Hhhehe ..
Agak galau sebenarnya 😕

Beberapa hari ini kehidupan bergulir begitu cepat.  Banyak yang terjadi, mulai dari cuti jadi bu guru berubah jadi admin. Maksudnya bukan jadi admin beneran sii.. Guru itu kan berinteraksi langsung dengan siswa menatap wajah polos ceritain sedokit kelebihan ilmu trus jadi BAHAGIA.  Nah,  sekarang udah jarang ketemu siswa terakhir pas ngawas berubah jadi kehectikan berhadapan dengan koreksian dan daftar nilai.  Ini adalah salah satu yg ngga aku suka tapi harus dihadapi. Malam-malam yang luar biasa,  termasuk menahan kesal waktu ustad zaid ganti format rapor saat punyaku sudah bisa dibilang rampung. Tapi berakhir dengan berhadapan dengan wajah orang tua dengan berbagai ekspresi, pasrah namun penuh harap. Endingnya bisa dibilang bahagia bersamaan dengan pengumpulan absen BP dan surat resign.

Masuknya surat resign jadi galau berikutnya. Karena NF tidak memberi kabar. Awalnya si berusaha santai tapi lama2 mulai deg2n. Waktu masukin bilang ke abi ummi sok cool. Sampai akhirnya memberanikan diri japri pak wisnu HRD baik hati yang wawancara waktu itu.
Jawaban pak wisnu menenangkan, intinya bilang saya sudah diterima kok tapi belum dihubungi ajja.

Dua hari menikmati liburan ajja sambil berusaha berjuang negosiasi dengan hati. Bagaimana hati bisa lapang dada melayani abi dan ummi. Hal ini butuh perjuangan sangat keras. Sampai mungkin beberapa tahun. Semoga abi dan ummi selalu dikuatkan untuk terus sabar menghadapi anak-anaknya.

Sekilas keliatan everything its okke. Sekarang lebih dari isi otak adalah apa yang bisa saya lakukan untuk kampus tercinta. Karena bersamaan dengan masuk surat resign maka saya akan tetap hidup di rawamangun dan sekitarnya. Semoga ini pilihan terbaik. Aamin.

Terlepas dari hal itu semua ternyata ada satu hal yg masih mengganjal.  Masih ada koreksian yg saya biarkan disudut rumah. Sebenarnya ini bentuk protes terhadap siapapun, tapi sayang hanya bikin membuat galau karena kalo dibiarin ya protesnya ngga bakal sampailah 😕

Sekolah yg satu ini saya berharap bisa memberi banyak. Tapi sistem pengelolaan yg dari kaca mata saya seolah agak diabaikan. #menurutsayaygsoktaulho#sedihsebenarnya
Ya saya coba konkretkan protes saya dengan meminta daftar nama siswa bentuk softcopy yg sudah berapa kali saya minta (guru ngga punya daftar nama 😣
Ternyata respon dioper ke orang yg entah siapa. Ditambah rongrongan wali kelas minta nilai. Plis deh, anda ngga nanya
gimana siswa anda 😯

Jadilah kesal menumpuk abis berasa dikhianatin sama si miqdad n arina. Paling nanti malam begadang selesaiin urusan terakhir trus masukin surat resign kedua.
Prinsipnya sekarang kalw akhirnya saya tidak bisa menciptakan bahagia saya tidak perlu bertajan lebih lama. Yang paling tidak saya pahami di dunia ini adalah bagaimana bisa seseorang bertahan di suatu keadaan yg selalu dia rutuk setiap saat.

Sudahlah udah agak plong nih, sampai jumpa. Mau bikin challenge nih mumpung tahun baru satu hari satu tulisan kali yaaa 😄
Tungguin ajja yak. 2017 benar-benar hidup baru buat bu guru 😁😁😁

Yg mau nanya judul kenapa begitu, ya nikmati saja.👑

Rabu, 02 November 2016

Jelajah Rusuh Mimpi Amburadul

tikai tak selamanya menggulung kusut
masai tanpa kerut
jaman memang tak selamanya kabut
mendung carut marut
hati tak selamanya busuk
jengah nan menusuk
langit tentu tak selalu ribut
kacau tanpa maksud
urai urai mengurai menjelajah

tak selamanya kau tau maksud
tak jarang absurd
tak kadang kalud bahkan malud
tak kurang wujud dalam ribut
takut dalam selimut


ciangsana, 5:55 jelang magrib
Hasil gambar untuk kacau

Selasa, 18 Oktober 2016

Aku Marah

Menjadi guru terutama di sekolah tentu ada tantangan tersendiri. Apalagi ketika belum menemukan metode yang pas dengan kondisi dan kebutuhan siswa. Rasanya ketika akan masuk kelas terasa begitu berat meskipun ketika sudah berhadapan dengan siswa segala beban seolah tertinggal di luar kelas. Termasuk segala beban hidup. Eeaa :)

Namun bagaimana jika segalanya lepas kendali? Ini terjadi pagi ini, sejak kemarin rasanya begitu berat menghadapi kenyataan harus berangkat. Sekolah tempatku mengajar tiap senin, selasa, dan kamis pagi memang sering membuat tak nyaman karena beberapa hal. Pertama, terus terang ekspektasi gaji berbeda dengan kenyataan. Mungkin buat sebagian orang akan mempertanyakan keikhlasanku sebagai guru. Tapi buatku yang terbiasa dengan kehidupan guru sejak lahir menunjukkan penghargaan sekolah terhadap SDMnya dan keseriusan dalam mengelola sekolah. Namun kemudian toh aku tidak bisa mundur karena hal ini berhubungan panjang karena pengelola sekolah adalah teman abi. Jadi, ya tak apalah pikirku dulu. Toh, aku juga ada penghasilan lain.

Kedua, sarana yang tidak kondusif terutama kelas ikhwan. Kelas untuk ikhwan adalah rumah kontrakan petak kosong tanpa jendela. Siswa yang jumlahnya sekitar 17-30 akan sesak di dalamnya. Kipas angin yang tersedia tidak mampu membawa sejuk. Tetapi mereka sudah terbiasa tapi kondisi belajar sama sekali tidak kondusif. Tidak sedikit siswa mengantuk karena pasti mereka kekurangan oksigen. Rasanya ingin kubawa mereka belajar di luar kelas. Namun, jatahku hanya lima puluh menit untuk menyampaikan jubelan materi. Belum pengkondisian mereka habislah waktuku :"(

Lalu, ada apa pagi ini. Ya, aku naik pitam di kelas VIII B yang seluruh siswanya ikhwan. Mereka tak kunjung diam setelah kumasuk kelas. Ini sudah yg kesekian kalinya. Di awal sebelum pembukaan selalu kuingatkan jam pelajaran yang terbatas yamg membuatku membuat kebijakan menyelesaikan urusan di luar kelas lima menit awal. Setelahnya tidak ada izin apapun, peraturan ini baru beberapa minggu diberlakukan karena mereka sangat mudah untuk keluar masuk kelas bahkan tanpa izin membuat kelas yg singkat itu tidak kondusif.

Kelas tak kunjung diam bahkan setelah aku membuka dan mulai memanggil satu per satu untuk presensi. Aku mulai tak konsentrasi, aku pandangi mereka. Sebagian mereka sudah tidak lagi duduk di bangkunya. Kupandangi mereka, dalam  hati aku berteriak, "Nak, belajar itu kebutuhan kalian. Kita tidak tau apa yg menunggu kalian di masa yang akan datang. Di luar sana orang mempersiapkan diri untuk bersaing apa kalian siap menghadapi mereka?"

Aku putuskan untuk menunda menyampaikan materi dan menyiapkan simulasi kecil. Mereka diminta untuk duduk berjarak, memberi ruang untuk aku berkeliling kelas. Seluruh buku disimpan. Banyak mereka yang menyangka aku memberikan ulangan mendadak. Aku tersenyum simpul. Kemudian kukatakan dengar dan laksanakan intruksi karena hanya akan diucapkan dua kali. Sebelumnya kuminta mereka diam tanpa suara selama dua menit. Ternyata memang mereka benar tak bisa tanpa suara bahkan itu hanya dalam dua menit :(

Simulasi berlanjut, kuminta mereka mengeluarkan selembar kertas dan sebuah alat tulis kemudian kubacakan empat pertanyaan yang masing-masingnya dilerjakan dalam dua menit. Pertanyaannya adalah:
1. Bayangkan 10 tahun yang akan datang dan tuliskan seperti apa kalian saat itu.
2. Tuliskan 10 kelebihan kalian,
3. Tulis 10 kekurangan, dan
4. Tulis sepuluh usaha pertama kalian menjadi kalian 10 tahun yang akan datang.

Aku berkeliling kelas memperhatikan mereka menulis jawaban di setiap jeda pertanyaan. Dan, tentu kondisi tidak berubah makin banyak pertanyaan makin tidak kondusif. Di antara mereka bahkan ada yang bingung dan akhirnya tamoak tidak mengisi kertasnya. Ini yg membuatku akhirnya muntab. Bahkan kalian tidak mengenal diri kalian, tidak bisakah kalian sedikit saja memberikan kesempatan saya sebagai guru untuk membantu?

Suasana benar-benar kacau saat kertas dikumpulkan. Mereka tampaknya menganggap simulasi ini olok-olok. Semuanya lepas kendali. Aku mulai berteriak dan melepaskan apa yg tertahan sejak awal. Kesedihan berubah menjadi amarah yg tertahan. Mereka terdiam, namun rasanya hatiku sedih. Dada terasa begitu sesak. Kututup kelas dengan emosi yg tertahan kubeli segelas air kutenangkan diri. Namun perasaan tetap nyaman hingga kelas-kelas berikutnya.

Entahlah, sedikit ada penyesalan. Namun, kurasa itu harus kulakukan agar mereka terbangun akan kenyataan dunia. Berharap ini adalah marah terakhirku. Nak, dunia ini kejam. Kalian terbatas namun jangan kalian akhirnya buta akan kenyataan. Jika memang sukses yang kau kejar itu harus dengan tekad dan perjuangan.

Maafkan ustazah untuk hari ini :'(

Kota Wisata, 18 okt 2016

Senin, 19 September 2016

Belajar, Belajar, dan Belajar


sumber: google.com
Kalau mau merenung beberapa saat ternyata kita sampai pada titik sekarang ini. Titik yang mungkin di mana sudah tidak bisa lagi melihat awal mula kita memulai dan pula belum terlihat di mana ujung. Yap, right! Sudah di tengah perjalanan. Jangan pernah sekalipun berharap ini akan mudah dan mulus, bersiaplah untuk tersungkur.

Lulus dan wisuda bukanlah sebuah akhir yang indah ataupun awal yang menakjubkan. Mungkin kebanyakan orang beranggapan adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu, but for me its very terrible. Lima September lalu adalah hari yang paling menggelisahkan. Hhahha ,, mungkin orang beranggapan aku aneh tapi its really happen :'(

Dan kegelisahan terus berlanjut di hari-hari berikutnya. Berangkat ngajar gelisah dan dengan rasa males. Akhirnya aku memutuskan untuk bolos, hhehhe. (lagian QC nya rese)

Akhirnya semua itu memberiku waktu untuk berpikir bahwa inilah kehidupan pasca melepas status mahasiswa. Ada banyak hal yang ada di luar kendali yang mungkin akan melibatkan banyak emosi. Hal ini membuat aku sadar bahwa belajar tidak pernah selesai hanya tempatnya saja yang berganti.

Akhirnya aku sadar bahwa saat ini aku bukan lagi seorang mahasiswa dengan segala kemudahan dan ketoleranannya. Sekarang aku sadar bahwa aku seorang guru, I'm a teacher, dan artinya bukan berarti aku berhenti belajar tapi harus bisa belajar lebih cepat dan tepat. Aku sadar bahwa aku bahagia ketika mengajar, bahagia menatap segala macam jenis siswa mulai dengan wajah polos hingga wajah bersalah yang harus aku perbaiki.

And now I'm a Teacher, and learn to be a inspiring Teacher.

William Arthur Ward said,

“The mediocre teacher tells. The good teacher explains. The superior teacher demonstrates. The great teacher inspires.”

The mediocre teacher tells. The good teacher explains. The superior teacher demonstrates. The great teacher inspires.
Read more at: http://www.brainyquote.com/quotes/quotes/w/williamart103463.html
The mediocre teacher tells. The good teacher explains. The superior teacher demonstrates. The great teacher inspires.
Read more at: http://www.brainyquote.com/quotes/quotes/w/williamart103463.html

Minggu, 28 Agustus 2016

Terjepit, Galau Tingkat Dewa


Akhirnya, sampai pada titik lepas dari titel mahasiswa. Trus? Permasalahannya adalah kalo lo ngga punya kerjaan berarti lo penganguran. Kalo lo ngga punya uang berarti lo bokek yang artinya siap mati kelaparan atau ngemis kiri kanan cari pinjeman. Dan, gue? berada di antara bayang-bayang itu semua. Semua orang seolah-olah jadi mata duitan. Sikap apatis gue mulai naik ke permukaan. huft! dan ini menyebalkan. Apalagi kalo status gue ngga jelas kamar kosan seolah-olah numpang, laptop seolah-olah minjem, duit seolah minta mulu, dan seterusnya. Yah kali karena gue lagi kurang ngaji ajja jadinya bete aja liat orang-orang. Ampe tathering ajja dimatiin gue gondok. plis deeeh tadi yang numpang siapa. huft!
Kesel kalo lagi kayak gini. Pengennya jadi orang yang selalu 'wise' disetiap keadaan. Tapi ya secara gue manusia bukan malaikat kesel lah dikit.
**
Tadi pas sesi kabar-kabar sebenernya pengen cerita segala gundah di hati. Tapi apa daya cuma nyangkut di keronggongan. Mata gua yang berasa basah daripada banjir cerita seadanya ajja. Sekarang ini rasanya gua cupu banged udah kayak orang ngga punya tuhan. Plis deh dhil ! AAgrhh!
**
Coba diulur yak satu-satu kekusutannya yak. Gue pengen jadi orang banyak duit tapi ngga nyita waktu. Pengen bisa bebas ngisi, ikut ini ikut itu. Upgrade diri, coba hal baru, les bahasa inggris, lanjut S2, ke daerah baru, bisa berenang, dan lainnya. Tapi akhirnya cuma terjepit di antara rutinitas. Rasanya sekarang tuh agak sesak, terjepit, pengen teriak bebas.
**
Oriflame lagi promo rekrut, september ini cuma Rp.9.900. Mau kerja keras lepas dari terjepit ini. setidaknya bisa manager 15% jadinya bisa lepas satu rutinitas ngajar. Pengen banged bisa Senior manager sebelum 2016 abis. Biar tahun depan bisa nyoba ini itu, ke sini ke situ, bahkan jalan-jalan ke tempat-tempat baru.
**

Rabu, 29 Juli 2015

Nasibku Nasibmu Nasib Kita Semua

Setiap kita semestinya setiap hari meluangkan waktunya merenung Merenung yang bukan melamun. Merenung untuk buat bangun dan mampu meraih palung. Coba untuk liat sekeliling agar kita mampu sadar tentang apa yang terjadi sehingga tidak hanya atis dengan dunia baru yang tercipta dengan hentakan-hentakan jempol di hadapan nyalang yang tak kunjung redup.

Sadarkah kita telah banyak yang terjadi dalam waktu yang tak panjang ini. Sadarkah kita bahwa barangkali sekitar kita mulai jumud dengan keberadaan kita yang tak kunjung mampu mengenali segala macam fitrah yang semestinya ada dan melekat permanen pada seonggok daging yang disebut manusia ini.

Pada saat lalu beberapa waktu setelah pesta yang katanya milik rakyat yang penuh gemerlap usai, Pada saat roda-roda kendaraan dibiarkan mengelinding berdasarkan harga pasar Pada saat si petani lembaran kertas dibukakan pintunya masuk dalam lahan gembur tanpa pandang siapa leluhur. Dan akhirnya pada saat ini himpitan dan jepitan mulai terasa menyesakkan dan menghasikan kalimat "karena pada saat waktu lalu hal terjadilah hal ini ..."

Kalimat ini sempat menancap dalam kalbu dan menhasilkan penghakiman yang tak bisa disebut salah. Kemudian kalimat ini mudah terlepas dari mulut yang akhirnya melayang dalam perbincangan melalui selular tanpa kabel. Tak hanya gejala sosial yang muncul tak lama tanpa disadari sang Pandir atau Sang Pura-Pura. Kemudian muncul gejala kejumudan sekitar melalui semburan-semburan ke permukaan, maupun hentakan dan ayunan di dalam dasar.


Merenunglah, mungkin satu sisi sudut pandang seseorang yang komplain pada seorang Ali mengenai kesemrawutan yang terjadi pada masa kepemimpinannya terlihat benar dan masuk akal. Namun, di sisi lain jawaban Ali atas komplain tersebut juga sangat menohok kalbu dan nurani. Kemudian, Rabb Penguasa menyatakan tidak akan ada perubahan nasib yang akan berubah kecuali tanpa perubahan dari sang empunya nasib. Merenunglah untuk nasibku nasibmu nasib kita semua. ~

Selasa, 28 Juli 2015

Merajut Jalan lebih Panjang yang Tampak Lebih Sepi

sumber: google.com
Aku adalah segala hal yang akan tertulis dalam setiap baris-baris huruf ini. Di antara ramainya biji-biji yang mulai berlompatan menemukan pot-pot yang telah mereka temukan dengan kerja keras. Sedang aku tak mampu menemukannya dan kusadari ada sisi hati yang belum siap tuk hadapi lompatan yang tampaknya agak mengerikan.

Kini kusadari jalanan ini mulai tampak sepi biji-biji kebanyakan telah mampu menemukan dan lompat menemukan potnya masing-masing. Sekilas kumulai ketakutan akan kesepian dan sendiri. Sekilas rasanya sendiri dan sepi tampak sangat menakutkan dan mengerikan dari lompatan-lompatan yang harus kulakukan untuk mencari da mencapai pot-pot milik kami.

Kemudian, aku belajar bahwa jalanku mungkin sedikit lebih panjang. Lompatan yang aku lakukan mungkin lebih banyak dan lebih berkeringat. Namun aku sadar bahwa agar mampu tumbuh baik pada pot yang kupilih harus ditopang oleh banyak hal. Kemudian aku yakinkan bahwa aku tertinggal bukan untuk layu dan mati dalam pot yang kutemukan kelak.

Aku harus melompat lebih tinggi untuk menemukan pot terbaik, tak hanya itu dalam potku juga harus diisi oleh tanah gembur yang cocok denganku. Aku harus berlatih agar terbiasa dengan jenis tanah apapun yang akan menjadi tempat tinggalku di pot itu kelak. Harus kupastikan agar aku bisa tumbuh besar dan terus besar dalam pot tersebut.

Akhirnya, aku yakin dengan jalan yang kupilih. Meskipun lebih panjang dan akhirnya sepi adalah untuk memastikan dapat tumbuh besar ditempatku tumbuh kelak. Hilangkan rasa takut dan pastikan napas harus panjang agar mampu memeluk asa dan tumbuh hijau dan mampu menyebar buah manis pada siapapun yang akan memapasiku kelak.


/Semangat ya buat teman-teman yang lagi sibuk pemberkasan wisuda. Selamat tumbuh di pot-pot kalian :)

Sabtu, 11 April 2015

Cerita Dua Makna

Yo ~
Kembali sekali lagi kusesaki senja. Tentu selalu ada cerita. Taukah ada gemuruh besar melanda. Tapi nyata hujan deras seketika mapu sejukkan jakarta, sekejap.

Kembali kusesaki senja. Bersama lima enam lima tujuh membelah jakarta. Sekilas kurasa iba kembali hampa dalam dada. Tak kukira, entah apa ternyata. Entah berontak tapi apa?
Entah gundah pesimis raya?
Entah hanya mundur seperti biasa?

Teori ada banyak-dan ada banyak ada
Tapi entah apa?
Aku tau aku dirundung juta tanya?
Mungkin esok lusa sudah tiada.
Tapi kadang kuharap ada jawab bukan hilang seperti biasa.
Mungkin harapku pada asa
Asa yg tampak pucat karena cinta.

Kuingin rasa cinta itu. Namun kuingin jawab tanyaku. Kupikir ia kan mengerti atau mungkin ia hanya lelah akanku
Yang tak kunjung dewasa.
Dan kini hanya tersisa sesakku

Jumat, 20 Maret 2015

K.U.A.T.



Sebenarnya otak ini terasa begitu semerawut. Banyak buku yang ingin dibaca, banyak kata yang ingin kutulis. Dalam hening. Dua puluh empat tahun sudah kesana-kemari di atas dunia ini, apa yang kucari? Yang kuyakini hingga detik ini adalah ridho dari sang khalik, pencipaku. Namun, rasanya begitu rumit, diriku begitu rumit teringat salah satu lirik nasyid edcoustic, berjuang untuk berubah menjadi lebih baik namun akhirnya diri ini terjebak kembali pada sikapku sebelumnya. Aku tahu jiwa ini rasanya dupenuhi nafsu yang selalu memenjara, memenjara. Tak jarang air mataku menitik, namun mungkin kadang jika dibandingkan para sholeh di sana.
Allah aku tau hatiku terlal jauh dari-Mu, namun mengapa aku merasa begitu dekat dan ingin memeluk. Namun raga ini tak mampu melawan nafsu yang menghinakan. Diri ini merasa terlalu berbangga pada beberpa langkah yang diambilnya pada ia kemudian jauh mundur dan mundur. Pernah diri ini merasa begitu cemerlang padahal sesungguhnya ia gelap sangat gelap. Namun aku tahu diri ini bisa bercahaya terang. Rabb tak letih-letihnya aku memohon jangan biarkan diri ini menjauh dari-Mu ak mohon Rabb. Mungkin mohon ini sangat egois namun Engkau yang Maha membolak-balik hati ini condongkan ia pada-Mu Rabbi, Arahkan dia tetap pada-Mu Rabb Penguasa semesta

Jumat, 27 Februari 2015

Orang Paling Jahat

PERINGATAN TULISAN INI PENUH DENGAN EMOSI !!

Kata bunda Helvy nulis bisa menyembuhkan hati dikala duka yaudah ane putusin nulis di sini. Perjalanan pulang dari kampus tiba-tiba emosi tinggat tinggi, awalnya si dalam hati, emang gue salah?emang gue orangnya kayak gini. udah bareng setahun trus masih masalah? singkat cerita mood saya hancur berkeping-keping. Nyampe kosan kunci kosan ngga nemu jadilah makin riweh. akhirnya saya putusin buat wudhu, eh ketika akan sholat kuncinya ketemu dan saya bisa sholat. biarin ajja dulu tuh hape, sukses bikin sholat beruraian air mata. gue jahat banget apa. akhirnya perasaan ngga guna saya muncul, tuh kan apa saya bilang ada di sini saya tidak ada fungsinya, gimana ngga departemen yng seharusnya dibawah pengawasan gue udah punya akses langsung keatas dan gue udah ngga hubungannya sama amanah itu. ujung-ujungnya saya bisa malfungsi lah dan bla bla bla semuanya muncul medesak-desak dikepala. Dan akhirnya saya diam siapa yang salah apa saya emang jahat atau entahlah. mungkin waktu bisa menjawab, saya berpikir tahun ini saya bisa menjalankan amanah tanpa ada penyesalan. saya masih ingin terjaga oleh amanah ini, kalau akhirnya membawa saya pada dosa ya buat apa? Ya Rabb, Jangan biarkan hamba tersesat.

Minggu, 10 Agustus 2014

Gelap itu Bernama Menunda

Pertama dimulai dengan ta'awuz dan basmalah.

Di hari-hari yang lalu ada mimpi-mimpi yang dirajut begitu indah. Setidaknya di mata pembuatnya karena beda cara pandang bisa berbeda keindahan. Rasa-rasanya tampak gemerlap walau telihat sederhana. Di hari selanjutnya genggaman ini akan penuh dengan segala capaian. Itu rasa-rasanya. Bagi beberapa orang yang kini telah berada dalam proses suksesnya -- bukan puncak sukses agar tidak ada turun sukses -- indahnya gerlap mereka semakin indah dan gemerlap. Tapi bagi yang kelamaan ia kusam dan kemudian cenderung menghilang hingga akhirnya ada yang kembali membangkitkan.

Dilihat kemudian dipikir dan direnung ternyata salah satu sebab indah itu kemudian kusam bahlan hilang adalah sebuah gelap. Awalnya sebuah kemudian dua enam dan akhirnya jari tak lagi dapat menghitung. Ya, gelap itu disebut menunda. Ini adalah penyakit dan ini bisa menjangkiti seluruh makhluk yang disebut manusia. Ia mampu merangsek hingga aspek terdalam manusia.

Hal ini ternyata yang menyakiti sang pemilik mimpi sederhana nan indah itu. Awalnya hanya satu tunda untuk mengejar ia memilih hanya berjalan. Ternyata kemudian disadari bahwa ia telah ada di ujung jalan dan dengan segala hal yang tertinggal tak terbawa olehnya. Mau tak mau ia harus kembali jika ia ingin membawa serta segala mimpinya kemudian berlari lebih kencang untuk mengejar segala hal yang telah tertinggal. Ia masih ingin menang karena menurutnya ia lahir untuk menang. Semoga Penyakitnya ini benar-benar hilang darinya dan kita semua dilindungi dari penyakit ini hari ini maupun kemudian hari.

Rabu, 30 Juli 2014

Dua Kali Tidak Ada Perpanjangan

Beberapa hari lalu, tepatnya beberepa saat sebelum berbuka puasa terakhir ada yang berkecamuk dalam dada. Ada gundah karena kemungkinan itu ada hari teakhir kebersamaan bersama Ramadhan tahun ini. Rasanya belum banyak momen yang aku habiskan bersamanya. Satu yang selalu aku bisikkan dalam do'a pertemukan aku dengan momen berikutnya, walaupun pasti ini tak lagi sama.
Kata mereka seluruh Indonesia kali ini akan merayakan Idul Fitri bersamaan. Dan kepastiannya akan diumumkan setelah magrib hari itu setelah orang-orang paham di atas sana melakukan persidangan. Satu lagi kubisikkan dalam do'aku berharap akan ada perpanjangan kebersamaanku dengan Ramadhan kali ini. Walau itu jika hanya sehari. Hati ini sangat perharap hasil sidang para orang pintar di sana mengatakan menggenapkan Ramadhan menjadi 30 hari.
Sambil menunggu hasil, kuputuskan menghabiskan waktu menunggu berbuka di masjid bersama Ummi tercinta. Berharap dapat melengkapi warna berbeda bersama Ramadhan ini. Masa menungguku ditemani hujan cukup deras seolah mengerti isi hatiku yang agak gerimis. Kuharap ada perpanjangan bisikku lagi dalam hati. Singkat cerita, setelah sholat magrib akhirnya jelaslah sudah. 'Tidak ada perpanjangan' kata ini menghentak-hentak di dada seiring pengumuman marbot masjid yang mengumumkan hasil sidang isbat. Sebagian orang di sekitarku berteriak gembira. Saat itu aku tak tau apakah harus bergembira, yang jelas sedih cukup mendominasi hati ini. Mungkin karena kebersamaanku dengan Ramadhan ini tidak kunikmati dengan maksimal. Ampuni Hamba Ya Rabb.

Itu lalu ..
Kini 'Tidak Ada perpanjangan' kembali menggetarkan dada ini. Hal ini  saya rasakan ketika membuka sosial media, kalimat ini seolah menghantui. Ya ini adalah peringatan dini yang dibuat oleh advokasi BEM UNJ terkait bayaran SPP dan UKT. Ini adalah hal baru memang dan sangat mengganggu kenyamanan dalam menikmati sosial media. Terus terang sebagai mahasiswa yang selalu membayar di akhir saya cukup tersinggung. Saya berusaha maklum dengan niat baik kakak-kakak di sana agar mahasiswa ingat dengan kewajibannya tapi ada beberapa hal yang mengganggu saya sehingga sifat bawel saya muncul (baca: kritisi).
Pertama, kita -maksunya saya- yang suka belakangan bayaran tidak pernah dengan sengaja mengundur pembayaran. Kita -maksudnya saya- akan selalu bayar sebelum hari H.
Kedua, BEM UNJ dalam hal ini advokasi BEM UNJ terasa berkurang rasa keberpihakannya terhadao mahasiswa. Dengan gembar-gembor tidak ada perpanjangan seolah-oleh menjadi pelindung pihak birokrat. Saya ingat tahun lalu kakak-kakak BEM UNJ sering bertanya apakah sudah bayaran apa belum baik secara personal maupun umum, bahkan beberapa sengaja mengakhirkan bayaran mereka agar bisa pasang badan jika terjadi hal-hal yang tidak sesuai skenario sehingga fungsi pelayanan advokasi lebih terasa.
ketiga, fungsi advokasi semakin tidak jelas. Selama ini terdengar di sekitar telinga ini bahwa advokasi fungsinya cuma pas bayaran itupun cuma buat bikin perpanjangan walaupun saya tahu ketika penerimaan mahasiswa baru advokasi berusaha melayani maba tapi mungkin ini tidak terasa secara bagi mahasiswa seluruhan jadi tidak terlihat. Dengan adanya deklarasi perpanjangan fungsi advokasi secara praktis semakin tidak menjangkau mahasiswa UNJ.
Jika disimpulkan berdasarkan suara-suara yang beredar jadi begini:
"Kalau memang ngga ada perpanjangan ya ngga usah neror keleus. Kasian yang yang udah pontang-panting kesana kemari waktu bertanya kepastian beasiswa kapan turun jawabnya ngga tahu. Kalau memang ngga ada perpanjangan ya ngga perlu sesumbar. Kasian menghabiskan waktunya mengabdikan dirinya dikampus dengan segala amanah, waktu bertanya jika skenario terburuk tidak bisa bayaran harus gimana? jawabnya coba cari pinjaman seolah meminjam itu adalah hal yang sangat mudah. Pertanyaan itu terlontar mungkin tidak membutuhkan solusi hanya menginginkan kenyamanan hati."

Jadi, menurut saya tidak ada seorangpun mahasiswa yang kuliahnya terhalang karena bayaran. Dan tidak ada yang sengaja mengakhirkan bayaran kecuali mungkin kakak-kakak yang tadi. Jika memang tidak ada perpanjangan "the belakangan gengs" ini akan mengusahakan sekuat tenaga dengan atau tanpa bantuan dari orang kampus. Mereka -mungkin terkhusus saya pribadi- akan menerima seperti halnya menerima kepergian Ramadhan. Tulisan ini hanya berdasarkan sisi saya dan para "the belakangan gengs" yang saya dengar. Saya hanya hamba Allah yang penuh dosa yang pasti menyisipkan kesalahan di sana-sini. Jika ada yang merasa tersakiti mohon dimaafkan.

~ Wallahu a'lam bishowab ~

Kamis, 05 Juni 2014

Dakwah Kampus Cita-cita dan Realita

Sebelum berbicara mengenai realita atau cita-cita, mungkin saya akan bercerita (karena ini essay bebas jadi aku cerita aja ya ^^\/). Saya akan bercerita tentang arti dakwah terutama dakwah kampus bagi saya. Saya sudah tahu tentang sejak kecil sekadar tahu tentu tidak akan cukup sehingga kemudian saya mulai memahami. Awalnya yang saya tahi adalah islam adalah agama saya dan agama satu-satunya agama yang benar dengan segala nilai-nilai dan aturan yang harus dijalankan.  Setelah beranjak dewasa entah kapan tepatnya saya mulai memahami bahwa agama ini tidak cukup dipegang dan disimpan sendiri, harus disebar ke seluruh dunia. Di sinilah saya mulai memahami dakwah. Suasana sekitar yang cukup kondusif membuat saya ingin mencicipi, mungkin tidak bisa dibilang dakwah karena sejak dulu saya ingin menjadi kakak akhwat yang cantik dan hebat-hebat seperti yang saya lihat maupun saya baca di cerpen atau novel yang saya baca. Singkat cerita akhirnya saya memasuki dunia yang baru, dunia yang selama ini hanya ada sebagai teori dalam otak saya, dunia kampus. Awalnya saya pikir dakwah itu ya sekadar ikut lembaga dakwah dan semacamnya. Namun ternyata tidak semudah itu. Harus ada gerak jamaah yang sinergis dan saya menjadi bagian itu bukan hanya menjadi bagian orang-orang yang hal-hal yang sepertinya berjalan begitu saja padahal ada ‘rekayasa’ matang dan rapi di balik semuanya.
Jadi bagi saya dakwah kampus adalah suatu track dalam dunia dakwah yang di dalamnya berjalan para pemuda cerdas secara tingkat pendidikan yang disebut mahasiswa dan ini adalah bagian dari proses penyebaran islam keseluruh dunia sebagai rahmatalil’alamin.
Cita-cita dakwah kampus, terus terang sebelum tugas ini di berikan saya ternyata selama ini tidak pernah memperhatikan hal ini. Bahwa tentu saja dakwah ini harus memiliki suatu cita-cita agar ia sampai pada tujuan tidak berjalan di tempat. Saya pernah mendengar bahwa tujuan dari dakwah kampus adalah menyediakan stok da’i tangguh yang siap berdakwah di masyarakat dalam berbagai sector kelak. Dan saya rasa saya setuju pada cita-cita ini dan mungkin memang ini seharusnya cita-cita dakwah kampus. Ketika kita berdakwah di kampus berharap kampus kita ‘futuh’ mungkin ini cita-cita masih terlalu kecil. Ketika kita bercita-cita tersedianya stok da’i bagi masyarakat maka otomatis pada saat itu kampus sudah mencapai tahap itu.
Namun kenyataannya, bahkan mencapai kampus madani atau mencapai tahap ‘futuh’ tidak bisa dibilang dekat. Dakwah kita masih sibuk megurusi sebaiknya begini sebaiknya tidak begini. Dakwah kita masih sibuk dengan ini kader kampus, ini kader sekolah dan sebagainya, kita masih sibuk dengan kok begini atau kok begitu. Mungkin saya terlalu lancing untuk berkata kita mungkin lebih tepatnya saya masih sibuk dengan hal-hal tersebut sehingga urusan-urusan dakwah yang sejati tak jarang terabaikan. Astagfirullah. Wallahu A’lam Bishowab.

Selasa, 06 Mei 2014

Ini Prosa Seminggu Lalu

Kali ini kita bicara cinta, tema yang tak akan habis dalam kata-kata. Bermula seminggu lalu dalam rentetan tanpa persiapan. Hanya adalah langkah-langkah berantakan dalam persiapan dalam tas yang amburadul. Namun biar begitu, di sinilah mula cinta akhirnya bicara. Cinta dalam buaian dunia yang akan menebar cinta nan kan tumbuh dalam melangit membumi.

Kemudian roda bergulir dalam hiruk riuh rendah. Roda yang bermula bak lambat tanpa tahu di mana rasa akan merambat. Puluhan meter tanah Jawa mulai di lewati, pandangan mata mulai tak henti haus menatap tumbuh merasuki cinta yang tak henti.

Kemudian tersadar cinta tumbuh, pada pijakan pertama dalan panjang tatapan semula. Tanah berpijak yang luas tak cukup di peluk pandang. Ini tanah Indonesia nan indah luar biasa. Ciptaan Rabbku yang Maha pecinta. memekarkan cinta bagai bait-bait prosa. Prosa seminggu lalu kuberi nama

Sabtu, 08 Maret 2014

Bisa Tersenyum Kemudian Merenung, Ternyata Dunia Tak Hanya Selebar Daun Kelor

Rasanya perjalanan pagi yang menampakkan mentari ini begitu panjang. Entah karena dering yang berbunyi entah sejak kapan bahkan mungkin sejak belum ada setitik pun cahaya di ufuk petanda fajar kan menyingsing. Dering itu sebentar terdengar khawatir sesaat kemudian terasa mulai menakutkan dan digelayuti rasa bersalah. Warui okasan :(

Kemudian tapak-tapak harus maju. Kuputuskan ia jatuh mengguyur menelisik seluruh jengkal, centi, nahkan mili. ada harap ia membawa seluruhnya rasa bersalah dan dosa-dosa yang mungkin datang dengan sengaja. Bahkan lembar bolak-balik kuhabis tanpa sisa dengan seujung embun yang  terkadang muncul di sudut ruang itu. Sudahlah telah kusiapkan tempat terjun teraman yang pernah ada di sana ada gadis dan pemuda. Kemudian sesaat senyumku terkulum.

Tiga kemudian tak menyatu dan kemudian dalam pencernaan berputar-putar. Ada ruang berlarian membuat dingin yang berkucuran air. Mungkin karena terpisah sehingga tak ada semburan kata yang mengatur kemudian melupakan. Mengalihkan yang terlupakan. Namun roda terus berlari. Yang  berlarian kemudian makin kencang makin tak beraturan. Sekitar hitungan jam ia kembali tenang mengejar yang manis yang di sana. Sehingga gelak kemudian memberi persembahan.

Apalagi, tentunya gelak dapat menyemburkan kata-kata pun. Kemudian sesekali khawatir mengintip dan kemudian meneguhkan, "ya sudah hanya perlu menghadapi." Sudahlah kemudian titik. kemudian pintu dipenuhi hiruk-pikuk sepertinya ada banyak tawa di sana dan menyempatkan diri untuk tersenyum. Lega.

Istimewa. Tiada yang lain tentunya entah itu apa. Pasti tak akan terganti pastinya. Kusebut keluarga bahagia. Tak mungkin akan sama seamanya kurasa tapi ada selalu ada makna dan tentulah itu artinya. Kemudian asap mengepul membubuhkan wangi tanpa ada sisa. Sebeumnya ada gadis dan ibunya. Katanya nyaris menyemburat darah pada tangannya. hhe ada-ada saja :).

Tak lama setelahnya seteah takbir menggema delapan laskar berbaris. Relatif memang dalam rapinya. Tadinya ada sedikit umbar di mana-mana.tentu membawa uasan senyum yang membahana. Kupikir tadi akan terbang mengikuti asa ternyata kalah oleh jumita. sudahlah ;D ya kemudian turun temaram senja tanpa kata-kata. Gemunung mulai naik mecapai puncaknya mungkin esok sebelum senja. Namun senja ini tiada terkira. Si sulung menebar asa ia kan ada dimana-mana. Setidak langkah pertama dimulai esok. Ya intinya Gambarimasu ;D

Akan Terengah-engah Kemudian Turun Mesin

Beberapa waktu lalu ketik apel siaga para calon wakil rakyat itu berkata untuk mengencangkan ikat pinggang di detik-detik terakhir. Namun kemudian salah satu di antara mereka mengingatkan jangan sampai karena terlalu semangat kemudian setelah peperangan ini usai malah turun mesin. Hal itu kembali terngiang beberapa waktu terakhir. Ada grafik yang sangat tidak stabil yang mungkin sangat mengkhwatirkan. Ketika suatu ketika sekitar menantang dan menuntut maka ia akan terus naik hingga nyaris melewati batas. Terkadang ada teriakan khawatir "hati-hati turun mesin" namun yang lain menyahut "lalu kalau bukan sekarang kapan lagi?" kemudian menit ke empat puluh sembilan lewat tengah malam ada yang berbisik lirih inikah turun mesin?

Barusan ada yang berceloteh pernahkah kita melakukan qiyamullail karena beratnya beban dakwah? Sesaat berikutnya ada tekuk yang mengerut kemudian menciut. Ketika kaki masih ingin berlari namun kemudian menyemburkan butir-butir lelah yang terengah-engah apakah ini baik? Kemudian teringat akan ada amukan di balik sana hanya karena, bukan, bukan hanya karena tiba-tiba semangat itu mengerdil. Terkadang terpikir apakah segalanya harus terpaut kemudian rasa bersalah itu harus terkait panjang melintasi partikel-partikel udara sejauh sekian kilometer. Lalu, entahlah.

Kemudian sejenak aku merenung kemudian dengan yakin mengangkat kepala. Ada banyak yang harus dikerjakan. Bisa dibilang tak ada waktu untuk terengah ataupun turun mesin. Pencipta itu maha sempurna tentu tak ada cacat pada kreasinya. Berharap mampu tentu akan mampu walaupun akan bermakna ganda. Ruang sempit yang tak bertepi kemudian menjadi titisan embun yang berharap akan membawa semi yang berbunga. Tak apalah dalam ribuan tanda tanya tapi kupikir ia akan indah jika sesaat dalam sesaat kemudian sesaat. Tapi satu hal bagaimana dengan amukan yang pasti datang esok hari? -,-

Kamis, 06 Maret 2014

Mungkin ini Satu dari Ribuan Bahkan Jutaan Langkah

Rintik hujan menemaniku pulang setelah menemani seorang kakak berbelanja di raihan. Sebenarnya ada kecamuk pikiran yang berputar-putar di dalam kepalaku. Entahlah. Mungkin karena hari ini telah kutekadkan menjadi manusia yang lebih maju. Tanpa terasa tiga tahunku lenyap tanpa ada apa pun yang kudapat. Bagaikan mengumpulkan air dengan kedua tangan, ia terbawa namun tek lama setelahnya hilang tumpah entah ke mana. Hari dosen meracau tentang berbagai teori dan berbagai nama orang yang asing ditelingaku. Entah memang aku yang terlalu dungu, atau memang telah banyak yang telah kulewatkan dalam hari-hari bahan tahunan kuliahku. Namun rasaku membiarkan kuliahku lewat begitu saja. Biasanya pasti ada kesan yang kudapat atau setidaknya akan ada rasa familiar jika bertemu setelahnya. Seperti seseorang yang dikenalkan oleh seorang teman dan sempat berbincang panjang setelahnya. Namun pada hari ini tak ada kesan sama sekali. Entahlah. Setidaknya satu hal yang mulai kupatri dalam hatiku, pekerjaan rumahku masih sangat banyak. Sebelum gelar sarjana sastra melekat dibelakang namaku aku tak boleh terlalu dungu bahkan dikata bodoh oleh kehidupan mendatang. Satu hal aku harus sering bergemul dengan buku dan perpustakaan.

Selanjutnya setelah perkuliahan yang membuat hati dan pikirangku terbang kesana kemari menyusun strategi sampailah aku pada suatu titik. Hidup sebagai manusia itu tak selamanya mudah. Kadang di dalam hati aku berpikir hanya senyum yang kupunya sehingga kuingin setiap orang merasakan senyumku. Namun di sisi lain aku tahu aku punya hal lain yang lebih berharga mungkin lebih mahal dari mutiara di lautan. Kemudian dalam sekejap segalanya terasa semua sampah bahkan hingga seulas senyumku. Seolah semuanya akan berakhir dengan getir bahkan mungkin kelak ada beribu air mata.

Dari sekian ribu kecamuk akhirnya kuakui akan ada bintang-bintang yang akan berjatuhan. cepat atau lambat bahkan ia bisa datang secepat kilat dan menjatuhi kepalaku. Ia mungkin akan menjatuhiku bertubi-tubi hingga kepalaku berlubang kemudian memenuhi seluruh isi benakku. Namun itu membuat sekelumit lebih kilat meraja-raja di hatiku dan itu mungkin rasanya sendu. Kemudian kuputuskan untuk diam lalu memenuhi jemariku untuk memainkan lagu kemudian menari ke sana ke mari hingga mungkin kemudian lelah. Dan akhirnya kuakui ini memang bagian dari jutaan langkah itu. ~

Kamis, 24 Oktober 2013

sonsong kemenangan - Izzatul Islam



Nasyid ini cukup menampar-nampar, Namun juga memberi kunci-kunci menunjukkan jalan masuk.

(*)Panji islam telah rindu ditegakkan
Allahu Akbar .. Allahu Akbar
Menanti bangkitnya para pejuang
Allahu Akbar .. Allahu Akbar
Panji islam telah rindu ditegakkan
Allahu Akbar .. Allahu Akbar
Menanti bangkitnya para pejuang
Allahu Akbar .. Allahu Akbar
Hanya karna Allah–lah tujuan
Hanya karna Allah–lah tujuan
Mewarisi derap perjuangan
*
Bersihkan jiwamu dari kemusyrikakkan
Balikkan pandangmu dari kemaksiatan
Lindungi dirimu dari kemunafikan
Kokohkan azammu tuk hantam kezaliman
Itulah asas kita dalam berjuang
Yang tanpanya kita takkan Allah menangkan
Itulah tonggak tuk menangkan pertarungan
Yang dengannya kita tegakkan keadilan
*
Singkirkanlah thogut tuk keridhoan Allah
Ikhlaskan diri dan kokohkan ukhuwah
Singkirkanlah thogut tuk keridhoan Allah
Ikhlaskanlah diri dan kokohkan ukhuwah
Teguh langkah berdiri di atas syari’atnya
Songsonglah harum syurga sebagai balasannya
*
Zuhudlah dari dunia yang sesakkan jiwa 4x
Tegakkan keadilah rengkuhlah kemuliaan
Rapatkan barisan hanya Allah tujuan
*