Yo ~
Kembali sekali lagi kusesaki senja. Tentu selalu ada cerita. Taukah ada gemuruh besar melanda. Tapi nyata hujan deras seketika mapu sejukkan jakarta, sekejap.
Kembali kusesaki senja. Bersama lima enam lima tujuh membelah jakarta. Sekilas kurasa iba kembali hampa dalam dada. Tak kukira, entah apa ternyata. Entah berontak tapi apa?
Entah gundah pesimis raya?
Entah hanya mundur seperti biasa?
Teori ada banyak-dan ada banyak ada
Tapi entah apa?
Aku tau aku dirundung juta tanya?
Mungkin esok lusa sudah tiada.
Tapi kadang kuharap ada jawab bukan hilang seperti biasa.
Mungkin harapku pada asa
Asa yg tampak pucat karena cinta.
Kuingin rasa cinta itu. Namun kuingin jawab tanyaku. Kupikir ia kan mengerti atau mungkin ia hanya lelah akanku
Yang tak kunjung dewasa.
Dan kini hanya tersisa sesakku
Sabtu, 11 April 2015
Jumat, 20 Maret 2015
K.U.A.T.
Sebenarnya otak ini terasa begitu semerawut. Banyak buku
yang ingin dibaca, banyak kata yang ingin kutulis. Dalam hening. Dua puluh
empat tahun sudah kesana-kemari di atas dunia ini, apa yang kucari? Yang kuyakini
hingga detik ini adalah ridho dari sang khalik, pencipaku. Namun, rasanya
begitu rumit, diriku begitu rumit teringat salah satu lirik nasyid edcoustic,
berjuang untuk berubah menjadi lebih baik namun akhirnya diri ini terjebak
kembali pada sikapku sebelumnya. Aku tahu jiwa ini rasanya dupenuhi nafsu yang
selalu memenjara, memenjara. Tak jarang air mataku menitik, namun mungkin
kadang jika dibandingkan para sholeh di sana.
Allah aku tau hatiku terlal jauh dari-Mu, namun mengapa aku
merasa begitu dekat dan ingin memeluk. Namun raga ini tak mampu melawan nafsu
yang menghinakan. Diri ini merasa terlalu berbangga pada beberpa langkah yang
diambilnya pada ia kemudian jauh mundur dan mundur. Pernah diri ini merasa
begitu cemerlang padahal sesungguhnya ia gelap sangat gelap. Namun aku tahu
diri ini bisa bercahaya terang. Rabb tak letih-letihnya aku memohon jangan
biarkan diri ini menjauh dari-Mu ak mohon Rabb. Mungkin mohon ini sangat egois
namun Engkau yang Maha membolak-balik hati ini condongkan ia pada-Mu Rabbi,
Arahkan dia tetap pada-Mu Rabb Penguasa semesta
Jumat, 27 Februari 2015
Orang Paling Jahat
PERINGATAN TULISAN INI PENUH DENGAN EMOSI !!
Kata bunda Helvy nulis bisa menyembuhkan hati dikala duka yaudah ane putusin nulis di sini. Perjalanan pulang dari kampus tiba-tiba emosi tinggat tinggi, awalnya si dalam hati, emang gue salah?emang gue orangnya kayak gini. udah bareng setahun trus masih masalah? singkat cerita mood saya hancur berkeping-keping. Nyampe kosan kunci kosan ngga nemu jadilah makin riweh. akhirnya saya putusin buat wudhu, eh ketika akan sholat kuncinya ketemu dan saya bisa sholat. biarin ajja dulu tuh hape, sukses bikin sholat beruraian air mata. gue jahat banget apa. akhirnya perasaan ngga guna saya muncul, tuh kan apa saya bilang ada di sini saya tidak ada fungsinya, gimana ngga departemen yng seharusnya dibawah pengawasan gue udah punya akses langsung keatas dan gue udah ngga hubungannya sama amanah itu. ujung-ujungnya saya bisa malfungsi lah dan bla bla bla semuanya muncul medesak-desak dikepala. Dan akhirnya saya diam siapa yang salah apa saya emang jahat atau entahlah. mungkin waktu bisa menjawab, saya berpikir tahun ini saya bisa menjalankan amanah tanpa ada penyesalan. saya masih ingin terjaga oleh amanah ini, kalau akhirnya membawa saya pada dosa ya buat apa? Ya Rabb, Jangan biarkan hamba tersesat.
Kata bunda Helvy nulis bisa menyembuhkan hati dikala duka yaudah ane putusin nulis di sini. Perjalanan pulang dari kampus tiba-tiba emosi tinggat tinggi, awalnya si dalam hati, emang gue salah?emang gue orangnya kayak gini. udah bareng setahun trus masih masalah? singkat cerita mood saya hancur berkeping-keping. Nyampe kosan kunci kosan ngga nemu jadilah makin riweh. akhirnya saya putusin buat wudhu, eh ketika akan sholat kuncinya ketemu dan saya bisa sholat. biarin ajja dulu tuh hape, sukses bikin sholat beruraian air mata. gue jahat banget apa. akhirnya perasaan ngga guna saya muncul, tuh kan apa saya bilang ada di sini saya tidak ada fungsinya, gimana ngga departemen yng seharusnya dibawah pengawasan gue udah punya akses langsung keatas dan gue udah ngga hubungannya sama amanah itu. ujung-ujungnya saya bisa malfungsi lah dan bla bla bla semuanya muncul medesak-desak dikepala. Dan akhirnya saya diam siapa yang salah apa saya emang jahat atau entahlah. mungkin waktu bisa menjawab, saya berpikir tahun ini saya bisa menjalankan amanah tanpa ada penyesalan. saya masih ingin terjaga oleh amanah ini, kalau akhirnya membawa saya pada dosa ya buat apa? Ya Rabb, Jangan biarkan hamba tersesat.
Minggu, 10 Agustus 2014
Gelap itu Bernama Menunda
Pertama dimulai dengan ta'awuz dan basmalah.
Di hari-hari yang lalu ada mimpi-mimpi yang dirajut begitu indah. Setidaknya di mata pembuatnya karena beda cara pandang bisa berbeda keindahan. Rasa-rasanya tampak gemerlap walau telihat sederhana. Di hari selanjutnya genggaman ini akan penuh dengan segala capaian. Itu rasa-rasanya. Bagi beberapa orang yang kini telah berada dalam proses suksesnya -- bukan puncak sukses agar tidak ada turun sukses -- indahnya gerlap mereka semakin indah dan gemerlap. Tapi bagi yang kelamaan ia kusam dan kemudian cenderung menghilang hingga akhirnya ada yang kembali membangkitkan.
Dilihat kemudian dipikir dan direnung ternyata salah satu sebab indah itu kemudian kusam bahlan hilang adalah sebuah gelap. Awalnya sebuah kemudian dua enam dan akhirnya jari tak lagi dapat menghitung. Ya, gelap itu disebut menunda. Ini adalah penyakit dan ini bisa menjangkiti seluruh makhluk yang disebut manusia. Ia mampu merangsek hingga aspek terdalam manusia.
Hal ini ternyata yang menyakiti sang pemilik mimpi sederhana nan indah itu. Awalnya hanya satu tunda untuk mengejar ia memilih hanya berjalan. Ternyata kemudian disadari bahwa ia telah ada di ujung jalan dan dengan segala hal yang tertinggal tak terbawa olehnya. Mau tak mau ia harus kembali jika ia ingin membawa serta segala mimpinya kemudian berlari lebih kencang untuk mengejar segala hal yang telah tertinggal. Ia masih ingin menang karena menurutnya ia lahir untuk menang. Semoga Penyakitnya ini benar-benar hilang darinya dan kita semua dilindungi dari penyakit ini hari ini maupun kemudian hari.
Rabu, 30 Juli 2014
Dua Kali Tidak Ada Perpanjangan
Beberapa hari lalu, tepatnya beberepa saat sebelum berbuka puasa terakhir ada yang berkecamuk dalam dada. Ada gundah karena kemungkinan itu ada hari teakhir kebersamaan bersama Ramadhan tahun ini. Rasanya belum banyak momen yang aku habiskan bersamanya. Satu yang selalu aku bisikkan dalam do'a pertemukan aku dengan momen berikutnya, walaupun pasti ini tak lagi sama.
Kata mereka seluruh Indonesia kali ini akan merayakan Idul Fitri bersamaan. Dan kepastiannya akan diumumkan setelah magrib hari itu setelah orang-orang paham di atas sana melakukan persidangan. Satu lagi kubisikkan dalam do'aku berharap akan ada perpanjangan kebersamaanku dengan Ramadhan kali ini. Walau itu jika hanya sehari. Hati ini sangat perharap hasil sidang para orang pintar di sana mengatakan menggenapkan Ramadhan menjadi 30 hari.
Sambil menunggu hasil, kuputuskan menghabiskan waktu menunggu berbuka di masjid bersama Ummi tercinta. Berharap dapat melengkapi warna berbeda bersama Ramadhan ini. Masa menungguku ditemani hujan cukup deras seolah mengerti isi hatiku yang agak gerimis. Kuharap ada perpanjangan bisikku lagi dalam hati. Singkat cerita, setelah sholat magrib akhirnya jelaslah sudah. 'Tidak ada perpanjangan' kata ini menghentak-hentak di dada seiring pengumuman marbot masjid yang mengumumkan hasil sidang isbat. Sebagian orang di sekitarku berteriak gembira. Saat itu aku tak tau apakah harus bergembira, yang jelas sedih cukup mendominasi hati ini. Mungkin karena kebersamaanku dengan Ramadhan ini tidak kunikmati dengan maksimal. Ampuni Hamba Ya Rabb.
Itu lalu ..
Kini 'Tidak Ada perpanjangan' kembali menggetarkan dada ini. Hal ini saya rasakan ketika membuka sosial media, kalimat ini seolah menghantui. Ya ini adalah peringatan dini yang dibuat oleh advokasi BEM UNJ terkait bayaran SPP dan UKT. Ini adalah hal baru memang dan sangat mengganggu kenyamanan dalam menikmati sosial media. Terus terang sebagai mahasiswa yang selalu membayar di akhir saya cukup tersinggung. Saya berusaha maklum dengan niat baik kakak-kakak di sana agar mahasiswa ingat dengan kewajibannya tapi ada beberapa hal yang mengganggu saya sehingga sifat bawel saya muncul (baca: kritisi).
Pertama, kita -maksunya saya- yang suka belakangan bayaran tidak pernah dengan sengaja mengundur pembayaran. Kita -maksudnya saya- akan selalu bayar sebelum hari H.
Kedua, BEM UNJ dalam hal ini advokasi BEM UNJ terasa berkurang rasa keberpihakannya terhadao mahasiswa. Dengan gembar-gembor tidak ada perpanjangan seolah-oleh menjadi pelindung pihak birokrat. Saya ingat tahun lalu kakak-kakak BEM UNJ sering bertanya apakah sudah bayaran apa belum baik secara personal maupun umum, bahkan beberapa sengaja mengakhirkan bayaran mereka agar bisa pasang badan jika terjadi hal-hal yang tidak sesuai skenario sehingga fungsi pelayanan advokasi lebih terasa.
ketiga, fungsi advokasi semakin tidak jelas. Selama ini terdengar di sekitar telinga ini bahwa advokasi fungsinya cuma pas bayaran itupun cuma buat bikin perpanjangan walaupun saya tahu ketika penerimaan mahasiswa baru advokasi berusaha melayani maba tapi mungkin ini tidak terasa secara bagi mahasiswa seluruhan jadi tidak terlihat. Dengan adanya deklarasi perpanjangan fungsi advokasi secara praktis semakin tidak menjangkau mahasiswa UNJ.
Jika disimpulkan berdasarkan suara-suara yang beredar jadi begini:
"Kalau memang ngga ada perpanjangan ya ngga usah neror keleus. Kasian yang yang udah pontang-panting kesana kemari waktu bertanya kepastian beasiswa kapan turun jawabnya ngga tahu. Kalau memang ngga ada perpanjangan ya ngga perlu sesumbar. Kasian menghabiskan waktunya mengabdikan dirinya dikampus dengan segala amanah, waktu bertanya jika skenario terburuk tidak bisa bayaran harus gimana? jawabnya coba cari pinjaman seolah meminjam itu adalah hal yang sangat mudah. Pertanyaan itu terlontar mungkin tidak membutuhkan solusi hanya menginginkan kenyamanan hati."
Jadi, menurut saya tidak ada seorangpun mahasiswa yang kuliahnya terhalang karena bayaran. Dan tidak ada yang sengaja mengakhirkan bayaran kecuali mungkin kakak-kakak yang tadi. Jika memang tidak ada perpanjangan "the belakangan gengs" ini akan mengusahakan sekuat tenaga dengan atau tanpa bantuan dari orang kampus. Mereka -mungkin terkhusus saya pribadi- akan menerima seperti halnya menerima kepergian Ramadhan. Tulisan ini hanya berdasarkan sisi saya dan para "the belakangan gengs" yang saya dengar. Saya hanya hamba Allah yang penuh dosa yang pasti menyisipkan kesalahan di sana-sini. Jika ada yang merasa tersakiti mohon dimaafkan.
~ Wallahu a'lam bishowab ~
Kata mereka seluruh Indonesia kali ini akan merayakan Idul Fitri bersamaan. Dan kepastiannya akan diumumkan setelah magrib hari itu setelah orang-orang paham di atas sana melakukan persidangan. Satu lagi kubisikkan dalam do'aku berharap akan ada perpanjangan kebersamaanku dengan Ramadhan kali ini. Walau itu jika hanya sehari. Hati ini sangat perharap hasil sidang para orang pintar di sana mengatakan menggenapkan Ramadhan menjadi 30 hari.
Sambil menunggu hasil, kuputuskan menghabiskan waktu menunggu berbuka di masjid bersama Ummi tercinta. Berharap dapat melengkapi warna berbeda bersama Ramadhan ini. Masa menungguku ditemani hujan cukup deras seolah mengerti isi hatiku yang agak gerimis. Kuharap ada perpanjangan bisikku lagi dalam hati. Singkat cerita, setelah sholat magrib akhirnya jelaslah sudah. 'Tidak ada perpanjangan' kata ini menghentak-hentak di dada seiring pengumuman marbot masjid yang mengumumkan hasil sidang isbat. Sebagian orang di sekitarku berteriak gembira. Saat itu aku tak tau apakah harus bergembira, yang jelas sedih cukup mendominasi hati ini. Mungkin karena kebersamaanku dengan Ramadhan ini tidak kunikmati dengan maksimal. Ampuni Hamba Ya Rabb.
Itu lalu ..
Kini 'Tidak Ada perpanjangan' kembali menggetarkan dada ini. Hal ini saya rasakan ketika membuka sosial media, kalimat ini seolah menghantui. Ya ini adalah peringatan dini yang dibuat oleh advokasi BEM UNJ terkait bayaran SPP dan UKT. Ini adalah hal baru memang dan sangat mengganggu kenyamanan dalam menikmati sosial media. Terus terang sebagai mahasiswa yang selalu membayar di akhir saya cukup tersinggung. Saya berusaha maklum dengan niat baik kakak-kakak di sana agar mahasiswa ingat dengan kewajibannya tapi ada beberapa hal yang mengganggu saya sehingga sifat bawel saya muncul (baca: kritisi).
Pertama, kita -maksunya saya- yang suka belakangan bayaran tidak pernah dengan sengaja mengundur pembayaran. Kita -maksudnya saya- akan selalu bayar sebelum hari H.
Kedua, BEM UNJ dalam hal ini advokasi BEM UNJ terasa berkurang rasa keberpihakannya terhadao mahasiswa. Dengan gembar-gembor tidak ada perpanjangan seolah-oleh menjadi pelindung pihak birokrat. Saya ingat tahun lalu kakak-kakak BEM UNJ sering bertanya apakah sudah bayaran apa belum baik secara personal maupun umum, bahkan beberapa sengaja mengakhirkan bayaran mereka agar bisa pasang badan jika terjadi hal-hal yang tidak sesuai skenario sehingga fungsi pelayanan advokasi lebih terasa.
ketiga, fungsi advokasi semakin tidak jelas. Selama ini terdengar di sekitar telinga ini bahwa advokasi fungsinya cuma pas bayaran itupun cuma buat bikin perpanjangan walaupun saya tahu ketika penerimaan mahasiswa baru advokasi berusaha melayani maba tapi mungkin ini tidak terasa secara bagi mahasiswa seluruhan jadi tidak terlihat. Dengan adanya deklarasi perpanjangan fungsi advokasi secara praktis semakin tidak menjangkau mahasiswa UNJ.
Jika disimpulkan berdasarkan suara-suara yang beredar jadi begini:
"Kalau memang ngga ada perpanjangan ya ngga usah neror keleus. Kasian yang yang udah pontang-panting kesana kemari waktu bertanya kepastian beasiswa kapan turun jawabnya ngga tahu. Kalau memang ngga ada perpanjangan ya ngga perlu sesumbar. Kasian menghabiskan waktunya mengabdikan dirinya dikampus dengan segala amanah, waktu bertanya jika skenario terburuk tidak bisa bayaran harus gimana? jawabnya coba cari pinjaman seolah meminjam itu adalah hal yang sangat mudah. Pertanyaan itu terlontar mungkin tidak membutuhkan solusi hanya menginginkan kenyamanan hati."
Jadi, menurut saya tidak ada seorangpun mahasiswa yang kuliahnya terhalang karena bayaran. Dan tidak ada yang sengaja mengakhirkan bayaran kecuali mungkin kakak-kakak yang tadi. Jika memang tidak ada perpanjangan "the belakangan gengs" ini akan mengusahakan sekuat tenaga dengan atau tanpa bantuan dari orang kampus. Mereka -mungkin terkhusus saya pribadi- akan menerima seperti halnya menerima kepergian Ramadhan. Tulisan ini hanya berdasarkan sisi saya dan para "the belakangan gengs" yang saya dengar. Saya hanya hamba Allah yang penuh dosa yang pasti menyisipkan kesalahan di sana-sini. Jika ada yang merasa tersakiti mohon dimaafkan.
~ Wallahu a'lam bishowab ~
Kamis, 05 Juni 2014
Dakwah Kampus Cita-cita dan Realita
Sebelum berbicara mengenai realita atau cita-cita,
mungkin saya akan bercerita (karena ini essay bebas jadi aku cerita aja ya ^^\/).
Saya akan bercerita tentang arti dakwah terutama dakwah kampus bagi saya. Saya sudah
tahu tentang sejak kecil sekadar tahu tentu tidak akan cukup sehingga kemudian
saya mulai memahami. Awalnya yang saya tahi adalah islam adalah agama saya dan
agama satu-satunya agama yang benar dengan segala nilai-nilai dan aturan yang
harus dijalankan. Setelah beranjak
dewasa entah kapan tepatnya saya mulai memahami bahwa agama ini tidak cukup
dipegang dan disimpan sendiri, harus disebar ke seluruh dunia. Di sinilah saya
mulai memahami dakwah. Suasana sekitar yang cukup kondusif membuat saya ingin
mencicipi, mungkin tidak bisa dibilang dakwah karena sejak dulu saya ingin
menjadi kakak akhwat yang cantik dan hebat-hebat seperti yang saya lihat maupun
saya baca di cerpen atau novel yang saya baca. Singkat cerita akhirnya saya
memasuki dunia yang baru, dunia yang selama ini hanya ada sebagai teori dalam
otak saya, dunia kampus. Awalnya saya pikir dakwah itu ya sekadar ikut lembaga
dakwah dan semacamnya. Namun ternyata tidak semudah itu. Harus ada gerak jamaah
yang sinergis dan saya menjadi bagian itu bukan hanya menjadi bagian
orang-orang yang hal-hal yang sepertinya berjalan begitu saja padahal ada ‘rekayasa’
matang dan rapi di balik semuanya.
Jadi bagi saya dakwah kampus adalah suatu track dalam dunia dakwah yang di
dalamnya berjalan para pemuda cerdas secara tingkat pendidikan yang disebut
mahasiswa dan ini adalah bagian dari proses penyebaran islam keseluruh dunia
sebagai rahmatalil’alamin.
Cita-cita dakwah kampus, terus terang sebelum tugas
ini di berikan saya ternyata selama ini tidak pernah memperhatikan hal ini. Bahwa
tentu saja dakwah ini harus memiliki suatu cita-cita agar ia sampai pada tujuan
tidak berjalan di tempat. Saya pernah mendengar bahwa tujuan dari dakwah kampus
adalah menyediakan stok da’i tangguh yang siap berdakwah di masyarakat dalam
berbagai sector kelak. Dan saya rasa saya setuju pada cita-cita ini dan mungkin
memang ini seharusnya cita-cita dakwah kampus. Ketika kita berdakwah di kampus
berharap kampus kita ‘futuh’ mungkin
ini cita-cita masih terlalu kecil. Ketika kita bercita-cita tersedianya stok da’i
bagi masyarakat maka otomatis pada saat itu kampus sudah mencapai tahap itu.
Namun kenyataannya, bahkan mencapai kampus madani
atau mencapai tahap ‘futuh’ tidak
bisa dibilang dekat. Dakwah kita masih sibuk megurusi sebaiknya begini
sebaiknya tidak begini. Dakwah kita masih sibuk dengan ini kader kampus, ini
kader sekolah dan sebagainya, kita masih sibuk dengan kok begini atau kok begitu. Mungkin
saya terlalu lancing untuk berkata kita mungkin lebih tepatnya saya masih sibuk
dengan hal-hal tersebut sehingga urusan-urusan dakwah yang sejati tak jarang
terabaikan. Astagfirullah. Wallahu A’lam
Bishowab.
Selasa, 06 Mei 2014
Ini Prosa Seminggu Lalu
Kali ini kita bicara cinta, tema yang tak akan habis dalam kata-kata. Bermula seminggu lalu dalam rentetan tanpa persiapan. Hanya adalah langkah-langkah berantakan dalam persiapan dalam tas yang amburadul. Namun biar begitu, di sinilah mula cinta akhirnya bicara. Cinta dalam buaian dunia yang akan menebar cinta nan kan tumbuh dalam melangit membumi.
Kemudian roda bergulir dalam hiruk riuh rendah. Roda yang bermula bak lambat tanpa tahu di mana rasa akan merambat. Puluhan meter tanah Jawa mulai di lewati, pandangan mata mulai tak henti haus menatap tumbuh merasuki cinta yang tak henti.
Kemudian tersadar cinta tumbuh, pada pijakan pertama dalan panjang tatapan semula. Tanah berpijak yang luas tak cukup di peluk pandang. Ini tanah Indonesia nan indah luar biasa. Ciptaan Rabbku yang Maha pecinta. memekarkan cinta bagai bait-bait prosa. Prosa seminggu lalu kuberi nama
Kemudian roda bergulir dalam hiruk riuh rendah. Roda yang bermula bak lambat tanpa tahu di mana rasa akan merambat. Puluhan meter tanah Jawa mulai di lewati, pandangan mata mulai tak henti haus menatap tumbuh merasuki cinta yang tak henti.
Kemudian tersadar cinta tumbuh, pada pijakan pertama dalan panjang tatapan semula. Tanah berpijak yang luas tak cukup di peluk pandang. Ini tanah Indonesia nan indah luar biasa. Ciptaan Rabbku yang Maha pecinta. memekarkan cinta bagai bait-bait prosa. Prosa seminggu lalu kuberi nama
Langganan:
Postingan (Atom)